Tampilkan postingan dengan label hias diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hias diri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Februari 2011

Pin EDP

Kurang lebih sudah sekitar 7 bulan ini gw kerja di Homecentre Indonesia dan setelah gw sadari, ini memang bukan passion. Sekali lagi bukan Passion!. Tapi alhamdulillah selama 7 bulan berjalan dan 4 bulan menjadi supervisor departemen, gw bisa hadepin tantangan dari pekerjaan ini dengan lancar. Awalnya memang rutinitas, tapi lama-kelamaan tanggung jawab itu emang udah jadi pikiran gw.

Beruntung gw dapet store yang 90% isi supervisornya anak EDP semua. Jadi ga heran klo kadang kita suka pada ngeyel, nyeleneh, kontra dengan kebijakan, dan satu lagi "sama-sama nunggu kontrak habis buat kerja disana" hehe. 

Mungkin yang bisa bedain kita dengan supervisor lain, (selain umur dan fisik mereka yg udah pada tua, xp.red), kita juga memakai pin EDP yang selalu dipake pada kerah sebelah kiri. Bukan bermaksud diskriminatif, tapi kadang berdasar persepsi gw, pin ini bisa punya arti.

Pin EDP 



Selain pin ini bisa ngebedain gw dengan supervisor yang lain, kya yg gw bilang di atas. Menurut gw pin ini jg kadang bisa jadi sisi sombong yang gw tongolin buat ngelawan suatu kebijakan manajemen atau ide aneh yang ada. Emang ga baik, tapi kesannya kyak ada pikiran "oke gw orang baru, tapi gw orang pilihan di perusahaan dan gw masih muda". Mungkin karena gw punya otorisasi terhadap suatu hal, makanya gw berani. Tapi biasanya hal itu ada hanya saat di dalam forum dan gw rasa ngotot-ngototan soal ide atau yang biasa disebut kerennya brainstorm itu lumrah.

Tapi satu sisi di lain hal, meski gw punya pin ini tapi tetep aja ada hal yang ngegores. Seperti gw kutip kata-kata dari I Gde Prama "Keterbukaan pikiran kerap dicaci dengan ketiadaan sikap. Ini biasa terjadi karena kepintaran terbiasa menghargai dirinya amat tinggi sehingga meletakkan pelayanan sebagai sesuatu yang hina."  Based on Jobdesc gw, gw itu boleh dikatakan "pelayan", semboyan yang terus dipekikkan setiap briefing pagi aja bunyinya "serve with heart, sell with pride". Dari situ gw rasa udah bisa dibayangkan.

Kalau gw mengaca pada diri sendiri dan gw liat kelakuan gw di tempat kerja. Gw bener-bener sombong terhadap apa yang melekat di badan, serta otorisasi yang gw punya. Tapi klo gw melihat keluar sana, gw hanya sebagai pelayan. Dengan merujuk kata "serve" sudah tercipta hal ini secara nyata. Bahkan seperti karma. Hal itu sudah terjadi buat gw. 

Lalu bagaimana tindak lanjutnya? Ikhlas?
Meski begini, lihat apa yang sudah kita beri? Bagaimana keluarga kita tetap menghargai semua ini?

Tanpa mengemis...secara tak sadar kita sudah bisa mengurangi pekerjaan orang lain dengan melayani. 
Kita harus belajar menunduk dan harus melihat air mata sendiri jatuh hingga tangan mengusap. 
Tuhan beri malam untuk imbangi siang.
Tuhan beri matahari guna imbangi dinginnya rembulan.
Sombong dan hina, walau tak sejalan tapi berdekatan.

Sabtu, 15 Januari 2011

Survivor Roadshow

Pagi ini waktu saya cek facebook, ternyata ada notification tentang video perjalanan salah satu teman saya yang berkecimpung di Rumah Sakit Dharmais. 

Dua bulan yang lalu saya memang ditawarkan untuk menjadi donatur bagi anak-anak kanker yang berada di beberapa rumah sakit daerah dan alhamdulillah saya bisa memenuhi tawaran itu. Ga perlu banyak yang saya kasih, cukup sejumlah buku dan mainan. Saya cukup prihatin saat diceritakan keadaan anak-anak kanker yang berada di daerah. Jauh berbeda perhatian yang mereka dapatkan bila berkaca dari dharmais. Salah satunya di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

Ironis. Bandung yang letaknya tak jauh dari ibukota, ternyata belum bisa memberikan suasana yang sesuai untuk bangsal anak penderita kanker di sana. Cat temboknya kusam, letak tempat tidur berdekatan dengan kamar mandi, keadaan bangsal yang dijejali pasien dengan jumlah melebihi kapasitas. Belum lagi tidak adanya ruang bermain atau wadah ekspresi untuk si anak. Lalu bagaimana membangun psikis mereka yang sudah down dengan kondisi di tubuhnya bila keadaan saja "sangat mendukung"?

Maka 4 orang yang berhasil survive menghadapi kanker di hidupnya itu, mencoba berbagi kesan dengan adik-adik di sana..



Mungkin akhir-akhir ini saya sedang dihadapi masalah yang berkenaan dengan status sosial, syarat memiliki materi, atau keluhan lain tentang dunia. Lalu bila saya berkutat terus untuk mengejar ke arah sana, apa hati akan tenang?. Apa semua hal itu pasti menjanjikan? Lantas kalau vonis mati di depan mata dan kematian bisa datang kapan saja.. apa saya akan berpikiran sama?

Mungkin nasib saya lebih baik daripada mereka. Beruntung bila anak-anak itu memiliki orang tua yang berbesar hati menerima keadaan anaknya. Lalu bagaimana nasib mereka yang disisihkan? dianggap aib keluarga? dibuat semakin menderita dengan keadaan?




maka kita perlu disana. 

Minggu, 26 Desember 2010

24 di dalam 24

Setahun kemarin terlalu banyak hal menggurat di hati dan kepala saya. Dari yang paling menyenangkan hingga yang terburuk pun jelas menjadi kaleidoskop terdahsyat seumur hidup saya. Berbagai sisi mendapat puja-puji, tapi tidak kalah handalnya saat diri di caci maki.

Terlalu banyak peristiwa yang membuat saya semakin menyadari bahwa sehebatnya, sepandainya, sekerennya pendapat orang di lingkungan kita, belum tentu sama dengan orang lain yang lebih masyur. Dipukul telak dengan perihal buruk yang agak "kecolongan", direndahkan seperti seekor kecoa, dianggap tidak berguna dan tidak pantas, hingga dinilai sepele oleh ras minoritas. Itu semua memuakan. Tak jarang diri saya putus asa. Tapi tak jarang juga keluarga menjadi suntikan hidrolik yang mem pop-up mental ini.

Dibalik semua peristiwa jadah tersebut. Tak kalah banyak rasa syukur yang saya lewati hingga akhirnya pun saya tetap mengeluh dalam jalaninya. Kerjaan yang lebih baik tapi perlu merendahkan latar belakang pendidikan, kendaraan yang menolong tapi tetap tak dinilai baik, sampai pacar setia yang budayanya tak mendukung. 

Bila mengukur berdasarkan momen per momen. Mungkin tiap menit saya bisa senyum-senyum sendiri untuk mengingat semua hal yang saya jalani secara ramai-ramai, sendiri, apalagi sama "jambon".  Tapi tiba-tiba saya bisa jadi cemberut, benci dan ngomel-ngomel sendiri kalo udah inget waktu direndahkan. Kata orang, saat direndahkan itu harusnya jadi titik balik buat bangkit dan menyerang balik. Namun nyatanya hal ini malah menjadi urat yang terjepit di tubuh saya. Baiklah, lebih baik ini menjadi tugas rumah di 24. Mungkin obatnya perlu di urut secara berkala, mungkin juga program detox yang agak menyiksa atau mungkin suntik botox dengan resiko merusak estetika tubuh.

Saya dan 24. Masih banyak yang harus dibenahi. Masih banyak yang harus diperbaharui. Masih banyak hal  yang perlu dibangun. Dan masih banyak ketenangan yang harus dicapai demi diri atas nama keluarga. 
Saya ingin kembali menapak, benar-benar merasakan apa yang saya rasakan di tanah, berpijak, kuatkan kuda-kuda dan akan tiba waktunya untuk berlari. Tinggalkan kenangan, tinggalkan khayalan, kembali pada kenyataan dan terus sadar akan kemampuan demi suatu ketenangan dan harga dalam sebuah keluarga.

Maaf ibu, maaf "jambon". 24 ku berjalan. Jika 2 hari ini aku sudah mengeluh, masih ada 363 hari untuk bersyukur. Dan kuharap hati lebih lapang dalam jalaninya. 

24 di dalam 24

 

Sabtu, 04 Desember 2010

Jangan Berharap dengan Kejutan

Masih sama seperti saat berangkat kerja hari ini, hujan menjadi selimut badan yang menepis angin di motor. Saya ga tau apa namanya ini. Gambar di hp yang saya tunggu sejak sore tak kunjung datang. Tapak demi tapak demi langkah berjalan yang didengar hanya alunan intro lagu Trust milik The cure. 

Lagi-lagi saya masih ga tau apa namanya ini. Harapan-kejutan memang bukan bagian. Saya sadari. Tidak ada manipulasi dari otak yang sedang saya pakai dan lama-lama mulai meradang. Kontaminasi antar hati, benci dan kepasrahan pelan-pelan diri saya terasa seperti banci. Serius! bercermin pun yang nampak bukan lagi laki-laki, hanya sosok banci.

Kejutan, jangan pernah kau datang lagi. Sekali saya tak berharap, dirimu datang dengan trengginas, membabi buta, hancurkan harga diri. 

Kejutan, aku bukan jodohmu. Semakin sering saya berharap, semakin sering pula kekecewaan datang.

Kejutan, lekas pergi. Engkau bukan baju yang pantas untuk hidupku.

Kejutan, saya tak tau lagi. 

Pelajaran ini terlalu berarti. Namun saya bukan keledai atau babi. Saya juga punya hati.

Jumat, 17 September 2010

#internal 2

sabar internal...SABAR!!. Anggap saja hatimu terbuat dari braille, dan hanya mereka yang "khusus", yang dapat membacanya. Ini hal special!, tapi kamu butuh bersabar.

tenang intenal.. tenang. Sesuatu pasti sedang mencari.

Mungkin ini ibarat bom dan sumbu, dimana suatu saat pasti bertemu.

Sabtu, 11 September 2010

#Internal 1

Hey internal, walau bersebrangan dulu kau cuma diam. SEKARANG saat kau mengeluh, hanya dia yang bisa jawab dengan ekspresi positif. masalahmu dilihat menarik.  lelahmu dirasa berjuang. bahkan cibiranmu dianggapnya motivasi terpendam.


Hey Internal.. ambil sewajarnya agar kau tau arah, jangan menyerah!

Kamis, 19 Agustus 2010

saya dan moment (yang) menggantikannya..

Di bulan puasa taun lalu gw pernah nulis tentang gimana gw kangennya sama bokap,  saya dan (yang) menggantikannya.. Tapi mungkin di taun ini gw punya pengalaman yang beda lagi..

Entah kenapa, bulan puasa selalu ada aja sesuatu yang bikin hati lebih sensitive. Meskipun di awal puasa gw sempet bingung waktu nyokap bangunin jam 4 pagi buat sahur (gw pikir ngapain nih si mamah bangunin subuh jam 4 pagi..ganggu banget), tapi tetep aja ada moment yang bisa ngelitikin hati gw.

Mungkin suasana di bulan puasa tahun ini agak beda. Berhubung kakak-kakak gw udah pindah nempatin rumahnya masing-masing, jd rumah pun isinya agak sepi karena cuman nyokap sama gw. Gw suka kasian sama si mamah. Jam kerja gw yang kadang harus pulang jam 11 malem kyanya udah lumayan sering biarin dia buat buka puasa sendiri di rumah. Malah klo pun gw lagi libur, gw malah pergi pacaran dan ga nyempetin buat bener-bener buka bareng dia sebagai moment yang emang jarang juga gw dapet. Emang sih, gw pernah ajak Lian buat buka bareng bertiga sama mamah di rumah. Ya tapi itu cuman sekali, dan sisanya klo libur.. gw tetep buka di luar, entah bareng Lian atau sama temen gw yang laen.

Tapi dengan keadaan seperti itu. Gw ngerasa ada yang kurang, sesuatu yang mungkin di tahun-tahun sebelumnya gw dapetin dan gw anggep biasa aja.

Pernah suatu ketika gw dapet jadwal yang bisa buat gw pulang lebih awal sebelum maghrib dan saat itu gw diwajibkan buat datang ke rumah kaka gw yang pertama untuk buka puasa bareng keluarga kecil gw yang sedikit demi sedikit personilnya mulai bertambah. Awalnya gw masih berasa biasa, sampe rumah kakak gw, gw langsung cuci-cuci, nyantai, malah sempet tidur-tiduran tanpa gw ngebantuin mereka yang lagi ribet di luar buat nyiapin hidangan buka puasa. Mungkin si mamah sekarang ga terlalu bawel liat gw cuman leha-leha ga bantuin orang-orang di luar kamar karena dia juga tau gw bru pulang gawe, yaaa tapi gw rasa klo euphoria badan gontai ini gw lakuin di tahun-tahun sebelumnya, pasti gw udah abis dikeramasin sama omelannya dia..hehe. 

Akhirnya buka puasa dimulai. Seperti biasa, gw sekeluarga ambil ancang-ancang untuk makan dan di lanjutin solat maghrib berjamaah. Sampai di moment ini pun rasanya gw masih plain. Abis solat maghrib bareng-bareng, gw cuman sibuk smsan, tiduran (pantes body makin mekar!), ga buka obrolan atau maen sama ponakan, yaa..mungkin gw masih ada rasa capek, maklum jadwal gawe gw waktu itu abis jumping. Dan setelah beberapa saat manjakan diri, body, dan hati (preet). Tiba-tiba gw dipanggil buat ikutan Sholat taraweh berjamaah.

Taraweh berjamaah di tahun-tahun sebelumnya buat keluarga gw benernya juga bukan suatu hal yang awam-awam banget, yaa tapi bedanya tahun ini jumlah jamaahnya agak banyaklah. Terus, posisi gw yang biasanya jadi imam pun sekarang harus bergeser karena sudah ada kaka ipar gw yang pastinya lebih tua dan wajarnya sudah mumpuni untuk jadi imam. Pelan-pelan diantara rakaat demi rakaat yang gw jalanin meski harus rela di gangguin sama ponakan gw yang masih kecil, gw baru sadar… ini angan-angan yang gw bangun di masa sebelumnya!

Bayangan gw yang kadang jadi agak mellow karena ada ke-irian akan hal-hal yang ga bisa gw lakuin dengan utuhnya anggota keluarga, sekarang gw bisa dapet. Mungkin gw kurang handal untuk bisa jauh lebih peka dan ini bener-bener sifatnya jarang banget. Sosok pengganti yang gw tongolin di tulisan gw taun lalu ternyata ga semuanya itu bisa berbentuk sosok. Dan buktinya, saat ini gw ngedapetinnya dalam bentuk moment. Hati-pikiran kita yang kadang kosong karena ngerasa ga punya pengalaman seperti yang orang laen dapetin dengan utuhnya kondisi anggota keluarga mereka, mungkin bikin diri kita bolak-balik nanya mulu..”gimana ya rasanya?”

Sekarang gw mulai nyoba buat mengurai. Sebenernya yang gw perluin itu apa sih di balik sosok yang gw cari dengan bayangan wajah yang bertuliskan wibawa, pemimpin, tegas, sampai mendapat kondisi sharing pikiran antar laki-laki (anak-bapak), dsb?!

Sampai akhirnya pertanyaan sebelumnya pun kembali muncul.. “gimana ya rasanya?”

Waktu ga pernah salah jalan, dan ga mungkin lo suruh dia buat balik arah. Hati-pikiran kita yang kosong dan selalu bertanya “gimana ya rasanya” pun ga akan pernah terjawab klo kita juga ga bisa bikin tiap hal berarti. Keutuhan yang dicari itu masih bisa kita lengkapi. Mungkin ada sosok yang hilang dalam hidup kita, sehingga diri kita pun merasa berkembang dengan pincang. Tiap orang gw rasa punya cara masing-masing untuk mengatasi hal itu. Dan gw yakin, entah bagaimana cara mereka, yang pasti mereka melalui proses pemaknaan terlebih dahulu, sampai akhirnya bisa berkesan dan dapat mengisi pertanyaan yang ada.

Mungkin pertanyaan-pertanyaan dari hati-pikiran (pengalaman) kita yang kosong itu tak terjawab dengan lugas, lengkap, dan nyata sesuai keinginan. Tapi setidaknya pemaknaan akan sesuatu itu bisa menggantikan dari suatu hal yang hilang..


Semua hal itu kembali pada diri kita, dan semua hal itu pasti akan kembali pada-NYA.

Jumat, 06 Agustus 2010

Life, are you the real love?!


Seperti biasa ibu bangun lebih dulu dari kami. Lakukan ibadah tiga perempat malam dan berkemas. Kami masih lelap namun ibu menjadi orang paling sigap.

Lalu barusan saya bertemu dengan ibu yang lain. Masih tergolong muda. Pendidikannya pun tidak terlalu tinggi. Namun ia punya semangat. Diri saya habis dikeramas oleh ocehannya yang kuat.

Hidup bisa menjadi sebuah pilihan
Tapi tak jarang hidup memilih kita untuk menjadi bagian

Meski merah sukumu tak buat mulia
Meski keringatmu hanya noda
Tapi nafasmu masih bicara..

Takut hanya cermin putus asa
Pertanyaan itu teman setia..
Lalu hidup?

Tidak ada salahnya untuk mencoba jatuh cinta pada hidupmu..
Mungkin caramu, mungkin takutmu.. sehingga kesalahan menjadi bayangmu..
Hidupmu cintamu
Nafasmu… rejeki pertama dalam hidupmu..
Gunakanlah, karena waktu tak pernah salah jalan dan dirinya tak mungkin balik arah..





Minggu, 09 Mei 2010

Apa Untungnya Romantis?


Saya tau hari Valentine sudah lama lewat, tapi apa romantis harus berkaitan dengan hari valentine?! Lalu sebenarnya arti romantis itu apa?. Saya tak ingin bicara lebih jauh mengenai Valentine ataupun arti romantis yang menurut saya pasti secara harafiah bakal absurd. Saya hanya ingin membagi cerita yang belum terjawab.



Malam itu seperti biasa, saya dan rekan kerja jaman Romusha (pacar.red) melakukan obrolan-obrolan singkat melalui sms.

Awalnya kita hanya bicara tentang kegiatan hari ini apa saja, standartlah. Lalu lama-lama pembicaraan menjurus dalam hal hubungan yang sedang kita enyam bersama.

A: “… nyet, kta km scra ga sdr kita jd pnya pengaruh stu sm laen? Klo ak gmn?...”
L: “…ya km jd lbh romantis…$%^&*”
A: “…ha? romantis?!, apa untgnya romantis deh?.... klo ngaruhnya ak k km ap?...”
L: “…ak jd lbh struggle, mgkn nanti..sabar ya, hehe….”

Apa untungnya romantis?!
Menurut saya semua yang dilakuin dari hati untuk pasangan rasanya jauh lebih punya makna dari kesan romantis, ya meski saya pun ga tau apa arti sebenarnya romantis itu. Saya juga ga punya patokan dari film drama, kartun, komik, novel teenlit atau apapun untuk menilai suatu itu bentuk dari sisi romantis.

Terakhir kali menganggap adegan romantis yang saya jalani yaitu saat mengerjakan tes masuk Jamsostek secara on-line bareng rekan kerja membersihkan gorong-gorong (pacar.red). Saat itu kita  bener-bener dalam suasana yang membuat kita melakukan suatu bentuk kerjasama. Ngitung bareng, jawab soal bareng, istirahat dulu bentar, becanda-bcanda dikit, trus lanjut lagi. Rasanya batas serius dan santai saat itu tipis sekali. Ga ada bentuk saling menggurui meski kita pun jadi saling tau dimana letak kelemahan masing-masing saat ngerjain soal-soal psikotes kya gitu. Tapi saat saya ungkapkan klo itu the best romantic scene during 8 months. Lah saya malah dibilang aneh, huahahaha…

Aduh, sumpah!! saya ga ngerti kalo harus dituntut jadi romantis. Yang semua saya lakuin rasanya berdasar naluri aja. Jangan minta yg aneh2 ya nyet?!. Apa benernya romantis itu sebuah cara buat nyenengin pasangan?! Apa ada standarnya?

Bagaimana kalo kita plot saja romantis itu sebuah “cara”?. Mungkin cara buat bikin nyaman, seneng, dan mudah-mudahan bisa bikin perasaan pasangan jadi sipu-sipu malu karena salah tingkah. Tapi lagi-lagi saya mikir, apa untungnya?. Okelah klo romantis itu bukan bagian dari dagang jadi ga mungkin lo bisa nemu untung-ruginya. Apalagi ini hidup, masa lo mo pamrih terus-terusan?

Tapi saya rasanya belum cukup puas buat bisa dapet inti jawaban dari pertanyaan saya itu. Yasudah akhirnya saya gunakan kata ikhlas saja buat gantikan romantis. Karena rasanya lebih fasih dan universal, toh cinta katanya juga universal kan?!

Lalu gimana jadinya klo di oscar tiba-tiba ada kategori The most ikhlas scene buat gantiin kata romance?? wakwaw…


Selasa, 13 April 2010

Loteng

Loteng. Tempat paling jujur yang saya kenal. Dirinya bagai kursi bioskop premium gambaran alam. Dimana senja melebur di atas gedung perkantoran yang congkak. Ya, saya penikmat senja.

Dulu loteng jadi saksi pertumbuhan emosi. Senang, bengal, keluh, dendam, hingga kecewa. Pernah saya dibuat senyum-senyum sendiri di atas loteng sambil santai membaca-baca lagi sms-sms dari gebetan jaman sekolah. Tapi pernah juga saya harus diam ratapi nasib sampai larut malam ditemani sebungkus rokok hingga air mata pun akhirnya keluar.

Tak jarang loteng jadi lahan pelarian saya bila emosi ini bergesekan dengan ibu. Di sini pula pertama kali saya melihat hal ghaib dalam hidup. TAKUT ???!

Tidak. Loteng selalu bisa buat saya kembali. Dia buat saya jatuh cinta pada senja. Dia ajarkan saya hargai perasaan ini. Dan hanya dia yang bisa melihat saya seperti adanya. Tapi itu dulu.

saya telah pergi dan tak kenal loteng lagi.