Jumat, 05 November 2010

Hanya ada cinta (?) di rumah

Mungkin kurang lebih 10 hari yang lalu mentalitas saya sedang dibina. Berawal dari kesalahan, sampai akhirnya ada yang murka.

Jadi sesuatu yang dianggap kerdil-rendah itu emang ga enak. Semuanya sangat jelas dan masih terpatri di otak saya yang besarnya hanya segenggam ini. Tapi dibalik itu semua, saya masih punya cinta. Hmm, Cinta?? benernya saya juga ga tau itu artinya apa. Yasudah ambil mutlaknya saja. Perlakuan ibu terhadap diri saya. Titik! saya ga mau orang lain. Blog ini subjektif, lagian cara orang tua nunjukin kasih-sayang ke anaknya beda-beda.

Saya bersyukur, meski keluarga masuk di taraf hidup cukup dan gak berlebihan. Tapi keterikatan emosi kita satu sama lain lumayan peka. Ibu saya pernah bilang.."sejak papap ga ada, ya mamah harus bisa deket ke anak-anak.. soalnya mau siapa lagi coba yang bisa mamah ajak sharing..". Mungkin dengan itu juga, sampe sekarang, meski kakak-kakak saya udah ga serumah lagi. Tapi obrolan tentang baik-buruk yang terjadi di keluarga masih intens dilakukan.  

Contohnya, akhir-akhir ini saya lumayan jadi hot topic di keluarga. Meski cuman cerita sama ibu, tapi semua anggota keluarga ngasih masukan. Kita langsung stick together. Coba bantu untuk bisa sharing tentang masalah yang lagi gw hadepin ini. Ga cuman sekedar sharing, tapi ibu juga ngasih dukungan dengan sentuhan. Biasanya saya berangkat kerja hanya cium tangan dan pergi. Tapi akhir-akhir ini beda, setelah cium tangan, ibu rangkul saya supaya tetap kuat. Ibu saya kecil, mungkin perlu jinjit sedikit agar benar-benar bisa memeluk saya.

Saya bangga dengan keluarga ini. Walau kemarin saya harus mendapat hinaan dari pihak lain. Tapi mereka tidak ikut emosi, justru malah buat saya tenang dengan kesabaran serta hadapi semuanya dari melihat kenyataan.

Sebenarnya saya juga kurang tau ibu tersinggung atau tidak dengan perkataan orang lain itu tentang saya. Soalnya secara kasat mata, ibu memang tegar dan selalu buat saya untuk nyaman. Seperti seolah-olah mengucapkan "sini lho..kamu masih punya keluarga..jangan takut". Tapi mungkin saja ibu tersinggung dalam hatinya. Karena tak heran, jika anak yang dibesarkannya seorang diri, diberi pendidikan dengan usaha yang dia punya hingga lulus sarjana dan sekarang bekerja, hanya dipandang orang lain sebagai "orang yang tak punya masa depan dan tak akan pernah pantas."  Pasti sakit. Namun yang saya dapat dia hanya ajarkan senyum untuk hadapi hal ini.

Saat-saat seperti ini keluarga akan menjadi pondasi untuk bisa mengembalikan mentalitas yang saya punya. Ya kalo kata temen saya, waktu diceritain segala masalah yang lagi menimpa diri saya sekarang ini, dia bilang "family comes first".

Saya bersyukur komunikasi di keluarga ini berjalan lancar, perbedaan pendapat di keluarga ini sangat terbuka dan bisa didiskusikan, dan perhatian satu sama lain tidak ada abisnya. Lucu. Meski kita sudah tak serumah lagi untuk tetap berkumpul dan tak harus cerita terhadap satu persatu anggota keluarga saat ada masalah, tapi support seperti sms atau telepon pagi-pagi bisa saja terjadi.

family comes first.red



Terima kasih Tuhan.. 
Terima kasih rumah yang sederhana..
Terima kasih keluarga..
Terima kasih..
meski segunung harta berlimpah, saya rasa tak akan ada ganjarannya untuk hal ini.


Apakah ada cinta lain di luar sana ?

2 komentar:

Nadia Meutuah mengatakan...

Seru banget punya keluarga seperti ini, dan keluarga selalu jadi tempat pulangnya siapapun kita diluar sana, dan bersyukur banget buat yang masih punya keluarga..

!ardi mengatakan...

alhamdulillah.. there's no place like home..hehe

Posting Komentar